Ketika kita mulai sombong hitung-hitungan dengan Tuhan.

17/08/2014 at 4:23 am Leave a comment


Banda Aceh, 2010
Malam itu selesai sudah mentoring yang aku lakukan untuk Entrepreneur University di dua kota, Medan dan Banda Aceh. Hari sudah larut malam, peserta kelas itu ternyata bukan hanya asli dari Nangroe Aceh, banyak juga orang Jawa.. kami sempatkan untuk foto-foto bersama, setelah rentetan pertanyaan kuselesaikan semua… Aku kembali ke kamar hotel, badan penat penuh keringat, 3 jam lebih mulutku berbusa-busa untuk mentoring ini.
Ketika aku sedang merebahkan badan sebuah SMS masuk. “mas Saptu, maaf ya untuk fee mentor dan biaya tiket pesawat belum bisa kami transfer malam ini.. secepatnya kami kabari.. trimakasih”
Aaaah.. ketika niat sharing ilmu dihadapkan dengan profesionalisme, kadang kala kita pun harus tetap “mengalah” pada kenyataan yang mengecewakan.
Tirai kamar hotel kubuka, lampu kerlap-kerlip di jalan depan hotel.. mataku terlalu lelah untuk menikmati Banda Aceh malam itu…

Enam bulan kemudian….
Sebuah SMS masuk, “Mas Saptu, sudah saya transfer 7 juta untuk fee mentoring di Medan dan Banda Aceh, maaf ya mas gara-gara ada masalah dgn pengelola lokal yang kemarin berantakan jadi pembayaran banyak tertunda.. trims mas!”
SMS dari panitia itu untuk memberitahu bayaran profesional atas waktuku, ilmuku, keringatku yang sudah kupenuhi 6 bulan lalu. Aku bahkan nyaris lupa hingga tidak menagihnya.. ya Alhamdulillah, paling tidak panitia punya itikat baik bahwa kewajiban profesional harus tetap diselesaikan, daripada jadi hutangnya yang dibawa hingga mati, malah bisa bikin penghalang di akhirat nanti… Ngeri..!

“Cuuuk… Ayo ikut aku!” Teriakku spontan pada Pincuk yang lagi lewat di depanku. Namanya Wahyu Priyono, panggilannya di kantor Pipin atau Pincuk. asli Blawong Mbantul.. dia salah satu managerku, cuma lulusan SMA tapi inisiatif dalam bekerja tidak diragukan. Sudah 3 tahun jadi crew di Kedai Digital, dulu di bagian produksi, kinerjanya yang bagus akhirnya membuatku percaya dia jadi Manager di salah satu cabang Kedai Digital di Jogja.
“Kemana mas? Aku masih kerja jee” tanya pincuk.
“Aah, pasrahke saja pada anak buahmu, ayo ikut aku!” Kataku
“Iya.. iya mas..”
Hehehe, harus manut sama bossnya kan, kerjaan kalo gak urgent bisa belakangan..
“Kita mampir ke ATM dulu cuk!” Ajakku

Mobilku meluncur ke jalan Imogiri, pincuk duduk di sampingku sambil megang duit 7 juta.
“Duit sebanyak ini buat apa jee mas?” Tanya Pincuk
“Itu duit harusnya buat aku Cuk, sopo sing gak mau duit tho! Aku juga lagi butuh duit buat nambah-nambah bayar cicilan kredit kantor, Itu hasil keringatku ngisi seminar dulu di Medan dan Aceh, tapi setelah 6 bulan panitianya baru tanggungjawab, aku dulu pernah nyeplos, mungkin ini memang bukan rejekiku, kok sampai lama sekali cairnya.. sudah kuniati untuk dibagi-bagi saja di Panti Asuhan, Insya Allah lebih bermanfaat buat mereka…”
“Sebanyak ini mas??” Tanya Pincuk mendelik..
“Iyolaaah.. mosok sebanyak bibirmu..!” Jawabku asal
Hubunganku dengan crew Kedai Digital memang dekat, aku posisikan mereka sebagai kawan, sebagai rekan kerja, bukan sebagai boss yang kejam kepada bawahan.. gak ada itu dalam kamusku..
“Ayo cuk, hari ini kamu tak bagehi pahala.. kita cari 7 panti asuhan.. masing-masing kita kasih 1 juta” lanjutku
“Siaaaap mas!” Jawabnya bersemangat..
Naaah..akhirnya kebawa juga emosi positifnya… Hehehe
Hari itu niat baik terlaksana, hujan deras di sore hari menemani ketika kami selesai di panti asuhan yang terakhir..

——————
Yusur Mansur sang ustadz yang paling rajin koar-koar soal sedekah itu pernah mengajari ilmu Matematika Sedekah.. Pagi itu aku mendengarnya di tivi,
“Gini Ji..kalo itungan pinter 10-1=9 betul enggak, tapi kalo urusan sedekah beda ji, 10-1=19! Darimaneee itungannye? Karena yang 1 yang kite sedekahin itu tuh bakal diganti Allah 10 kali lipat!! Allah itu Maha Kaya! Gak bakal bangkrut hanya bikin rejeki kite balik jadi berlipat-lipat! Nah mulai sekarang mulai pada deh rajin sedekah yee…”
Teh tawar anget buatan ibuku menemaniku lihat tivi pagi itu… Aku manggut manggut saja tanda setuju..

————-
Di opening buku 7 Kejaiban Rejeki dan Percepatan Rejeki tulisan kawan saya Ippho Santosa ada buanyak testimoni mereka yang mengalami keajaiban sedekah.. Dari yang dikembalikan 10 kali lipat hingga ribuan kali lipat, dari yang kembali dalam hitungan jam ato yang berbalik dalam hitungan bulan. Aku pun sering mengalami keajaiban itu, walopun tak satupun yang kuceritakan ke Mas Ippho biar dikutip di bukunya.. Hehehe
Sekali waktu di hari Jumat, aku diminta sharing sederhana di kelas Mata kuliah wirausaha di kampus Universitas Kristen Duta Wacana Jogja, sharing biasa 1 jam, aku anggap sharing bagi ilmu gratisan. Ketika pulang bu dosen menyelipkan amplop ke tanganku, “buat beli bensin mas” katanya. Ketika aku berangkat ke Masjid untuk jumatan ada sesuatu yang mengganjal di saku belakangku, ah ternyata amplop bensin tadi. Sambil jalan kubuka amplop itu, isinya uang 200 ribu, mungkin ini memang sudah jatah tabungan untuk masjid itu. Sejenak kemudian uang itu sudah masuk ke kotak infak, amplopnya berpindah ke tempat sampah.. Sholat jumat di mulai, keajaiban apa nanti yang bakal kutemui yaa..?
Gak lama memang, sore harinya aku sudah dapat SMS, seorang mitra baru di Kedai Digital sudah transfer 20juta, dan siap training minggu depan. gak nunggu lama juga kali ini.. Wusss langsung balik lagi..
Bagi yang baru pertama melakukan ilmu sedekah pasti momen seperti ini yang ditunggu, aaah.. aku sudah “nyogok” Gusti Allah apa yaa yang bakal kuterima… padahal Beliau gak butuh uang sedekah kita, justru kitalah yang butuh tabungan untuk di kuburan itu..

Hari berlalu…
Sejak uang 7 juta itu aku bagi ke tujuh panti asuhan, belum juga ada tanda-tanda ada keajaiban. Di rekeningku belum masuk juga transferan 70 juta atau 700 juta, padahal Allahpun sudah berjanji, bagi hambanya yang bersedah bakal diganti dengan rejeki yang berlipat-lipat, seperti yang aku baca di Al-Baqarah 261 waktu itu… aah akupun tidak terlalu merisaukannya, mungkin karena sudah gak pantas pula aku menghitung-hitungnya, mengeja angka demi angka seperti anak TK yang baru belajar membaca. Hanya saja harus ada jawaban jika ada orang yang sudah bersedekah, dia menunggu dengan penuh kecemasan yang ditunggu tidak kunjung datang… syetan akan bermain di hatinya, agar otaknya setuju kalo Yusuf Mansur pembohong, dan Gusti Allah sedang ingkar janji….

——————————————-
Jakarta, April 2011
Mobil itu harganya 1,3 Milyar… mulussss… gagah dan mentereng… Hummer produksi langsung dari amerika, bukan buatan Tangerang atau Bekasi, walopun mobil mahal tapi kalo diisi over penumpang tetap aja umpek-umpekan kaya ikan pindang..!!
Pagi itu Mas Mono menjemputku di hotel Aryaduta, siang aku harus kembali ke Jogja, dia mengajakku untuk ikut seminar Mas Ippho di Serpong. Ketika di Lobby rombongan anak-anak Wirausaha Muda Mandiri (WMM) yang sedang ada acara training langsung rebutan ikut. Akhirnya mobil untuk 5 penumpang itu diisi 7 orang, ada Agung Nugroho Simply Fresh, Hafiz Dawet Cah Mbanjar, Hamka Bornis Studio, dan Firman Tela yang badannya menuh-menuhin tempat! Brrrrr…

“kalian tau enggak, mobil Hummer inipun aku dapetin tanpa modal! Aku gak keluar duit seperserpun… semua Allah yang ngatur, hehe…” cerita mas Mono ketika kami sudah melaju menuju Serpong.
“mosok mas?! Gimana caranya itu… gimana ilmunya!” tanya Hamka penasaran
“jadi begini…” kata Mas Mono, ceritanya runtut tetang kisah datangnya mobil mewah itu, kami dengarkan sambil manggut-manggut.. kalo kamu mau cerita detailnya besok kalo kamu ketemu Pengusaha Ayam Bakar itu bisa kamu introgasi sendiri.
Agung yang duduk disebelahku mulai meringis karena harus memangku si Hafiz.. aaah mobil mahal tapi kayak naik angkot juga kalo begini!

“Sedekah itu penuh misteri, kadang kita gak bisa mengukurnya dengan nilai uang. Sedekah itu juga bisa menjauhkan dari bencana, atau meringankan bencana yang memang sudah tercatat untuk kita. Minggu kemarin aku baru saja sedekah dengan nominal yang cukup besar, tapi ketika aku di daerah Cicalengka Jawa Barat mobilku disrempet motor, hehe.. aku ambil hikmahnya, mungkin hari ini memang sudah ditakdirkan Allah kalo aku harus kecelakaan di daerah itu, tapi karena keajaiban sedekahlah mungkin Allah mengganti bis atau tronton yang harusnya menghajar mobilku diganti dengan motor bebek, itupun motornya yang terpelanting masuk selokan, mobilku hanya spionnya yang pecah… Alhamdulillah..” Kata Mas Mono melanjutkan.
Kami semua manggut-manggut, plus aku tambah meringis karena bokongnya Hamka membuat paha kananku yang didudukinya semakin puegeeel…!!

Kalo urusan sedekah akupun masih belajar pada Mas Mono, dia pejuang sejati… dari seorang office boy di Jakarta, jadi pedagang kaki lima, sekarang outlet Ayam Bakar Mas Mono tersebar di penjuru Jakarta. Angka omzet 80 juta-100juta sehari hal biasa buat dia. Sekarang Mas Mono jadi tangan kanan Yusuf Mansur yang dulu juga terkesan ketika dapat musibah uang jamaah di maling, Mas Mono lah yang berdiri paling depan menggati uang yang hilang itu..

Sekali waktu dia Chat di BBM ku, “Sap.. hari ini aku sedekah Brutal! Omzetku hari ini dari semua warungku akan kusedekahkan semua! Full”
“piro mas..?” tanyaku
“Sekitar 80 juta Sap…”
Kamu tentu bisa mbayangkan bentuk wajahku, lebih sadis dan meringis dari wajah si Pincuk tentunya, seperti orang yang ngeleg kodok hidup-hidup…
“hari ini juga Mas Jodi juga akan sedekah seluruh profit dan warung Steak dan Shake nya, juga dari semua Warung Bebek pak Slamet yang di semua cabang…pokoknya hari ini kita Brutal sedekah Sap” Lanjut Mas Mono
Aku klakep…mingkem.. uang 7 jutaku gak ada apa-apanya dibanding dua pengusaha kuliner paling gila itu. Hari itu tampak sekali mereka terbang melejit naik buroq.. aku masih nyaman naik motor butut… hadeeeh….!!

———————————–
Sebuah kisah di Jaman Nabi, seseorang yang besok akan mati digigit ular, dan Nabi diberitahu malaikat akan hal itu. Namun ternyata esoknya orangnya tetap hidup bahkan tetap bekerja sampai tua. Nabi diberitahu kalo orang itu menyedekahkan sebagian hartanya sehingga Allah memanjangkan umurnya, seolah-olah takdirpun bisa kita nego dengan sedekah.

Aku membaca sebuah email di Milis, tentang Rockeffeler orang kaya di Amerika yang tidak bahagia dan sulit tidur. Dokter pun memvonis bahwa hidupnya tidak akan lama. Lalu Rockeffeler mengubah hidupnya, untuk menolong kaum papa dan orang-orang miskin. Lalu apa yang terjadi? Kesehatannya membaik dan berlawanan dengan perkiraan dokter. Rockeffeler hidup sampai umur 98 tahun sebagai ahli filantropi dan dermawan yang terkenal.

Seorang kawan pernah bercerita padaku, Ayah sahabatnya divonis dokter mengalami penyumbatan jantung dan harus dipasang ring untuk mengatasi penyakitnya itu. Orang itu memilih minta diantar keliling Jogja sambil membagi-bagikan harta yang dia punya. Dalam hitungan hari penyakitnya sembuh dengan sendirinya, dokter tak bisa menjelaskan proses penyembuhan itu dari sisi medis dan ilmiah.

Ustad Arifin Ilham di tivi juga pernah mengingatkan, 3 keutamaan Sedekah bagi orang yang melakukannya: Memanjangkan Umur, Menolak Bala, dan melapangkan rejeki. Jika Allah ridho semua bakal mudah datang buat kita.
Aku semakin paham, pada level yang lebih tinggi matematika sedekah 10-1=19 tidak harus selalu kita hitung setiap uang yang kita sedekahkan. Aku yakin Yusuf Mansur mengajarkan rumus hitungan itu untuk mancing para Pesedekah Pemula agar mudah percaya bahwa Allah Superrrr Duperrrr Maha Kaya…

—————————————
Gili Trawangan, Juli 2011
Pulau ini benar-benar surga, panti landai berpasir putih dengan ombak yang nyaris tenang di atas hamparan langit biru yang terbentang. Gili Trawangan adalah permata berharga di Lombok. Ribuan bule yang datang dari penjuru dunia seolah memantapkan julukan sebagai Bali mini di pulau Lombok..
Sehabis acara Entrepreneur Summit di Bali kemarin, kami rombongan WMM langsung meluncur ke Gili untuk sejenak rileks menjelang liburan berakhir sebelum Ramadhan. Hendy Babarafi, Denni Villa Batam, Hafiz Rijal Dawet Medan, Jeffry Bonita, dan Doni Tirtana masuk ke rombongan ini.

Kami sudah diatas kapal yang akan mengantar kami untuk diving. Freddy bule asal Prancis yang akan jadi pemandu kami hari ini mulai menjelaskan ilmu diving yang harus kami patuhi. Bukan hal yang baru karena Januari lalu kami sudah pernah menyelam ke Bunaken Manado. Namun unsur Safety yang tinggi harus selalu dipatuhi, karena di bawah laut sana semua bisa terjadi. Di Gili Trawangan kami harus membayar 650 ribu/orang untuk diving hari itu.
Aku dan istriku dapat jatah gelombang dua, sementara yang lain turun ke bawah aku dan beberapa kawan snorkling dulu di sekitar kapal. Ketika waktunya aku menyelam, aku harus diberi pemberat tambahan agar mudah turun kebawah, ukuran badanku sudah XXL hehe.. Kami berpisah di 4 lokasi, aku dituntun oleh Freddy disebelah timur, di bawahku langsung ada jeram sedalam 12-20 meter. Aku harus menyesuaikan dengan alat selam ini, kemampuanku belum secanggih Denni dan Hafiz.

Freddy menarikku untuk turun ke bawah, 15 menit pertama semua baik-baik saja, tombol udara dipundakku ditekan Freddy sehingga badanku langsung turun kebawah. Di Kedalaman 8 meter hanya berjarak 1 meter dari kakiku seekor penyu raksasa sedang keluar sarang, badannya besar dan lebar menggapai gapai sisi tebing itu. Kucoba mendekati, entah mengapa tiba-tiba kedua telingaku terasa sakit sekali, tekanan air yang semakin tinggi membuat gendang telingaku seperti ditusuk dengan lidi. Segera kutekan hidungku sambil kuhembuskan nafas kuat-kuat untuk mengurangi tekanan air, tapi ada yang gak beres… tiba-tiba air masuk terhisap ke dalam hidungku, bagian karet kacamata selam yang gak benar posisinya. Aku gelagepan, air laut masuk ke hidungku dengan deras, kalut karena aku ada 8 meter dibawah air, seketika kutekan kuat-kuat tombol udara dipundak, Freddy yang ada dibawahku tiba-tiba dia menarik kakiku, mungkin maksudnya akan membenarkan posisi ventilatorku. Terlambat! aku keburu kalut, aku susah bernafas.. dadaku seperti terbakar, aku tidak bisa bernafas… saatnya untuk mati!! Aku harus keluar…!! kutekan keras tombol itu, badanku langsung seperti balon yang melayang keatas, kilatan cahaya matahari yang memantul di air terlihat jelas ketika aku meluncur tersedak-sedak menuju permukaan.
“HHOOOOEEKKK!!” aku teriak dan muntah ketika badanku menyembul ke permukaan. Freddy yang muncul di sampingku terus teriak-teriak.. “what are you doing??!! Its very very dangerous!!”
Aku tau bahayanya jika langsung keluar air dari menyelam, perbedaan tekanan yang sangat besar membuat tubuh manusia harus beradaptasi. Tapi bagaimana lagi.. badanku langsung lemas diangkat naik ke kapal…
Fiiuh… aku masih dapat jatah hidup hari ini! Istriku yang naik ke kapal langsung memelukku, “Dari tadi perasaanku gak enak…mungkin ini sebabnya!” katanya
Dan aku muntah lagi…
Air laut itu membuat perutku seperti akan meledak…
Setelah tenang, kawan-kawan bergantian ngeledek aku, “untuuung Sap… jadi Mbak Sita gak harus cari suami lagi!”….. aaah!! itulah mereka..!

Angin laut semilir sore itu…kapal membawa kami merapat lagi ke Trawangan. Aku berselimut handuk sambil hitung-hitungan dengan Allah. Hitunglah jika satu tabung oksigen itu seharga 300ribu untuk aku hidup 1 jam di bawah air, sementara aku sehari dapat 24 jam gratis menghirup oksigen yang diberikan Allah, seharusnya aku membayar 7.200.000 kepada Allah hanya untuk oksigen saja sehari. Uang 7 juta yang aku sedekahkan bersama Pincuk waktu itu pun masih harus nombok 200 ribu. Setahun aku harus membayar 2,6 milyarr untuk oksigen. Belum lagi jika Allah menagih biaya sewa mata, mulut, telinga, kaki, tangan dan semua organ tubuhku… aku sudah tidak mampu menghitungnya…

Langit sore Gili Trawangan menguning, kilaunya memantulkan di sepanjang horizon… aku harus kembali tahluk, Gusti Allah itu Maha Buesarrr Sekali… dan hutangku kepada Beliau sudah tak sanggup kuhitung lagi….

————————-
Menjelang wafat, WS Rendra sempat meninggalkan beberapa puisi yang sangat menginspirasi, dia tulis sambil terbaring sakit, salah satunya adalah…
Renungan Indah…
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukum bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”….

…………….
Lain hari aku bermimpi, kalkulatorku jebol ketika aku hitung-hitungan dengan Gusti Allah… dan aku jadi maluuuu sekali mengharap sedekahku langsung berbalas esok hari…

*diketik di Jogja, dibaca di mana sadja…
17 Sept 2011

Advertisements

Entry filed under: cerita motivator.

asal KUHP dan 6 jurus untuk menghadapi preman debt collector

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


BUdi yunianto

Categories

Blog Stats

  • 12,188 hits

Statistik

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Pages


%d bloggers like this: