Wong Ndeso & Pasar Bebas

31/10/2010 at 10:06 pm 1 comment


Saya terhenyak tatkala membeli singkong sekilo, harganya cuma Rp 1000,- Saya lebih terkejut lagi, saat calon pembeli di samping saya masih tega menawarnya Rp 500,- Si penjual yang telah renta itu, sambil memelas, ia berkata: Gapunten, bu. Mboten pareng, maaf bu, masih belum boleh.

Dalam hati, saya berkata: “Ya Allah, Pak Tua ini sungguh mulia akhlaqnya. Tabah, sabar, tawakkal dan rendah hati”. Dagangannya ditawar 100 persen dari harga semula, tapi tak sedikitpun ia tampak jengkel. Bahkan, jawabannya diawali dengan permohonan maaf. Sebuah ungkapan penolakan yang cukup tinggi nilainya dalam perspektif ilmu balaghah.

Singkong sekilo harganya cuma seribu perak dan dengan uang segitu, saya bisa membawa pulang singkong sebanyak 1 tas plastik besar. Harga 1 Kg singkong = 1x parkir = 10 x sms. Jauh lebih murah dari abonemen internet, pajak rekening bank, selembar karcis bioskop, sebuah sabun, biaya rebonding rambut, fotocopy makalah, uang daftar seminar, dan masih lebih murah dari banyak hal.

Benar-benar murah! Tak sebanding dengan penantian panjang yang hampir setahun bagi petani singkong untuk bisa panen, sejak kali pertama menanamnya. Menurut pengakuannya, singkong yang dijual Pak Tua itu berasal dari halaman belakang rumahnya. Sekali lagi, dalam hati, saya mencoba menduga: “Berapa kira-kira laba yang diterima Pak Tua ini dari sekeranjang dagangannya itu?”.

Pria beruban itu telah menanam sendiri, lalu menunggunya berbulan-bulan. Setelah tampak berbuah, dengan riang gembira, ia cabut sendiri hasil keringatnya, lalu bersama sejuta harapan, ia rela mengusung keranjang yang sedemikian berat dari rumahnya di desa menuju pasar kota. Sesampainya di pelataran pasar, ia harus sabar menanti pembeli menghampirinya sambil harap-harap cemas taku diciduk petugas Satpol PP. Tatkala calon pembeli datang, ia menyambutnya dengan wajah ramah. Saat itu, ia tidak serta-merta dengan mudah terima uang dengan laba yang menurut perhitungannya cukup besar untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Tapi, pria tua itu masih harus berjuang dalam tawar-menawar yang cukup alot. Hatinya tak hancur, walaupun karya terbaiknya ditawar semurah-murahnya. Ia bahkan meminta maaf kepada calon pembeli -yang menurut saya- kurang memahami mahalnya proses dan kerasnya perjuangan hingga menawar murah. Bahkan, terkadang ada yang menawar sambil meledek: “Masak singkong beginian dijual seribu perak?!”.

Apapun pengorbanan, perjuangan, penantian hingga penghinaan yang diterima Pak Tua itu, tak sedikitpun ia keluhkan. Hebatnya lagi, dia tak butuh disebut Bapak Ekonomi Wong Ndeso seiring derasnya produksi olah singkong yang membanjiri pasar, tapi ia tak gentar. Bahkan, saya yang merasa khawatir, tatkala Supermarket, Mall, dan Plaza diserbu konsumen yang lebih gemar produk instant hasil industri makanan, sehingga hasil tani dan kebun wong ndeso benar-benar terancam!

Singkong produk pabrik yang telah diolah menjadi kripik, biskuit, snack yang lalu dikemas dengan bungkus menarik, harganya jauh lebih mahal daripada sekilo singkong mentah. Padahal, netto kripik singkong hasil industri hanya 100 gram. Pihak industri pasti membeli harga singkong dari desa dengan harga semurah-murahnya. Dengan 1 kg singkong, pabrik bisa membuat seratusan bungkus snack singkong. Inilah hebatnya teknologi yang mampu menafikan proses kerja keras dan memproduksi sesuatu yang mahal dalam jumlah besar dari bahan baku yang murah.

Seiring masuknya Indonesia ke dalam Kawasan Pasar Bebas Asia-Pasifik (FTAAP), mampukah wong ndeso seperti: para petani, pemilik kebun dan ladang, bersaing dengan hasil buminya yang mentah? Menghadapi para cukong dan kapitalis lokal saja, wong ndeso telah terpinggirkan. Apalagi, kini mereka harus bersaing melawan produk luar negeri. Jelas, rakyat kecil akan makin sengsara. Jadi, tanpa kontrol pemerintah -sebagai penyelenggara negera- dan pembinaan teknologi pertanian secara berkesinambungan, maka petani tradisional akan gulung tikar. Sawah dan ladang mereka akan dijual, lalu beralih profesi menjadi pedagang. Sebuah pilihan terpaksa yang justru makin membuat mereka terpuruk ketika dagangannya rugi akibat mereka tak memahami ilmunya.

Lama sekali saya memikirkan nasib pak tua itu, hingga lamunan saya dibuyarkan oleh suguhan singkong rebus oleh isteri tercinta. Tatkala kupegang singkong itu dan siap kusantap, tangan saya merasakan sentuhan tangan Pak Tua yang masih melekat di sana. Terbayang proses panjang sejak beliau menanam, menunggu, memanen, mengangkat hingga menjualnya.

Lalu, singkong itu seakan bicara: “Cepat! Santap aku agar aku segera kembali ke bumi. Aku ingin terus melayani manusia sepanjang mereka mensyukuri nikmat Allah”. Sambil berdoa, kubebaskan singkong itu agar ia bisa bertemu kembali dengan Pak Tua, kekasihnya.

“Ya Allah, berkahilah rizeki yang Kau berikan pada kami dan juga bangsa kami yang sering tak mensyukuri nikmatmu”.

Visit my web http://www.taufiq.net

Advertisements

Entry filed under: cerita motivator.

Penjual Koran, Pengamen Buta Dan Penjual Tape Singkong Tips: Mengubah yang Terburuk Menjadi yang Terbaik

1 Comment Add your own

  • 1. landavia  |  16/12/2010 at 11:30 am

    kita emang suka ngaco seh.. tp masuk akal juga.. akhir2 ini semua instant sering dilakukan… bahkan akibatnya ya kekacauan..
    contoh terjelas ya pemilu tangsel

    benar2 pemilu komedi
    *mentang2 yg ikut salah satunya komedian?!?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


BUdi yunianto

Categories

Blog Stats

  • 12,008 hits

Statistik

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Pages


%d bloggers like this: