Telaga Hati dan Pahitnya Hidup

20/10/2010 at 11:57 pm Leave a comment



Suatu  hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah.  Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua  masalahnya. Pak  tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk  pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. 
“Coba  minum ini dan katakan bagaimana rasanya, ” ujar pak tua.

“Pahit,  pahit sekali, ” jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.
Pak tua tersenyum, lalu mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga belakang  rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai di sana, Pak tua kembali menaburkan serbuk  pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

 

“Coba  ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua  kembali bertanya kepadanya,

“Bagaimana rasanya?”

“Segar ,” sahut si pemuda.

“Apakah  kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua.

“Tidak, ” sahut pemuda itu.

Pak  tua tersenyum dan kemudian berkata, “Anak muda, dengarkan baik-baik.  Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak  kurang. Jumlah dan rasa pahitnya pun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi  kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.”

“Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat  kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang kamu dapat lakukan. Llapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk  menampung setiap kepahitan itu.”

Pak  tua itu lalu kembali menasehatkan, “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu  adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi  jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung  setiap kepahitan itu, dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”

Hidup adalah sebuah pilihan. Mampukah  kita jalani kehidupan dengan baik sampai ajal menjelang?

Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik.

Advertisements

Entry filed under: cerita motivator, Motivasi.

Tangga Sukses dan Syukur Kisah Manusia Kuat dan Seorang Janda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


BUdi yunianto

Categories

Blog Stats

  • 12,008 hits

Statistik

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Pages


%d bloggers like this: